Waspada Virus Nipah, IDAI Ingatkan Orang Tua Lindungi Anak dari Risiko Penularan
- Apa Itu Virus Nipah dan Mengapa Berbahaya?
- Imbauan IDAI: Anak Jangan Mengonsumsi Buah Bekas Gigitan Kelelawar
- Cara Penularan Virus Nipah yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
- Belum Ada Vaksin, PHBS Jadi Kunci Pencegahan
- Contoh PHBS yang Bisa Diterapkan di Rumah
- Kenali Gejala Virus Nipah Sejak Awal
- Situasi Virus Nipah di Indonesia: Belum Ada Kasus Terdeteksi
- Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pencegahan
- Kesimpulan
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya peran orang tua dalam melindungi anak-anak dari potensi paparan virus ini. Edukasi sederhana, seperti kebiasaan memilih makanan yang aman dan menjaga kebersihan, dinilai bisa menjadi langkah awal yang krusial.
Imbauan ini disampaikan langsung oleh Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, yang mengingatkan bahwa Virus Nipah dapat menular dari hewan ke manusia dan berdampak serius pada kesehatan anak jika tidak diantisipasi dengan baik.
Apa Itu Virus Nipah dan Mengapa Berbahaya?
Virus Nipah merupakan virus zoonosis, yaitu virus yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kelelawar pemakan buah dikenal sebagai reservoir alami virus ini, meskipun penularan juga dapat terjadi melalui hewan lain atau kontak dengan manusia yang terinfeksi.
Dalam berbagai laporan internasional, Virus Nipah dikenal memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, bahkan bisa mencapai 75 persen. Infeksi virus ini tidak hanya menyebabkan gangguan pernapasan, tetapi juga berisiko menimbulkan peradangan otak (ensefalitis) yang berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Yang membuat Virus Nipah semakin berbahaya adalah belum tersedianya vaksin maupun pengobatan spesifik hingga saat ini. Penanganan medis lebih berfokus pada perawatan suportif untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Imbauan IDAI: Anak Jangan Mengonsumsi Buah Bekas Gigitan Kelelawar
Dalam sebuah webinar kesehatan yang digelar pada Kamis, 29 Januari 2026, dr. Piprim menekankan kebiasaan yang kerap dianggap sepele, namun berpotensi berbahaya. Salah satunya adalah anak-anak yang memungut dan mengonsumsi buah yang sudah terdapat bekas gigitan kelelawar.
Menurutnya, kebiasaan ini masih sering dijumpai di masyarakat, terutama di wilayah yang dekat dengan area pepohonan atau kebun buah. Anak-anak, bahkan orang dewasa, kerap menganggap buah yang tampak masih layak dikonsumsi tetap aman meski sudah digigit hewan.
“Banyak juga kebiasaan kita, anak-anak memungut buah-buah yang bekas dimakan kelelawar karena malas manjat,” ujar Piprim dalam webinar tersebut. Ia menegaskan bahwa jika kelelawar pembawa virus Nipah menggigit buah tersebut, maka risiko penularan kepada manusia, termasuk anak-anak, sangat mungkin terjadi.
Cara Penularan Virus Nipah yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
Virus Nipah dapat menular ke manusia melalui beberapa jalur, antara lain:
Kontak dengan Hewan Pembawa Virus
Kelelawar pemakan buah menjadi sumber utama virus. Buah atau makanan yang terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran kelelawar berpotensi menjadi media penularan.
Konsumsi Makanan Terkontaminasi
Buah dengan bekas gigitan kelelawar atau produk pangan yang terpapar cairan tubuh hewan pembawa virus dapat membawa risiko infeksi.
Penularan Antarmanusia
Dalam kasus tertentu, Virus Nipah juga dilaporkan dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat, terutama di fasilitas kesehatan jika protokol pencegahan tidak dijalankan dengan baik.
Dengan memahami jalur penularan ini, orang tua diharapkan lebih waspada dalam mengawasi aktivitas dan kebiasaan anak sehari-hari.
Belum Ada Vaksin, PHBS Jadi Kunci Pencegahan
IDAI menegaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksinasi maupun obat khusus untuk Virus Nipah. Kondisi ini membuat pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk meminimalkan risiko infeksi.
dr. Piprim menyebut penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai salah satu kunci utama pencegahan. PHBS tidak hanya relevan untuk mencegah Virus Nipah, tetapi juga berbagai penyakit infeksi lainnya yang kerap menyerang anak-anak.
“Ini memang salah satu penyakit yang cukup serius dan belum ada obat maupun vaksinnya. Oleh karena itu, perilaku hidup bersih dan sehat menjadi salah satu kunci utama pencegahan,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari Antara.
Contoh PHBS yang Bisa Diterapkan di Rumah
Agar lebih mudah dipahami dan diterapkan, berikut beberapa contoh PHBS yang disarankan untuk keluarga:
Memastikan Kebersihan Makanan
Orang tua perlu memastikan buah dan makanan dicuci bersih sebelum dikonsumsi. Buah yang jatuh ke tanah atau terlihat rusak sebaiknya tidak diberikan kepada anak.
Menghindari Konsumsi Buah Tidak Layak
Buah dengan bekas gigitan hewan, termasuk kelelawar, sebaiknya langsung dibuang. Meski terlihat masih segar, risiko kontaminasi tetap ada.
Mencuci Tangan Secara Rutin
Biasakan anak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, setelah bermain di luar rumah, dan setelah bersentuhan dengan hewan.
Edukasi Anak Sejak Dini
Berikan pemahaman sederhana kepada anak tentang pentingnya kebersihan dan bahaya mengonsumsi makanan sembarangan.
Kenali Gejala Virus Nipah Sejak Awal
Selain pencegahan, orang tua juga perlu mengenali gejala awal Virus Nipah. dr. Piprim mengingatkan bahwa gejala infeksi virus ini sering menyerupai penyakit virus pada umumnya, sehingga kerap diabaikan.
Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain:
- Demam
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Mual dan muntah
- Gejala pernapasan seperti batuk atau sesak
Pada kondisi yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan neurologis, seperti penurunan kesadaran hingga peradangan otak. Jika anak mengalami gejala tidak biasa atau memburuk dengan cepat, orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat.
Situasi Virus Nipah di Indonesia: Belum Ada Kasus Terdeteksi
Hingga saat ini, Virus Nipah dilaporkan belum terdeteksi di Indonesia. Sejumlah pemerintah daerah dan instansi kesehatan juga menyatakan belum menerima instruksi khusus terkait penanganan Virus Nipah dari Kementerian Kesehatan RI.
Sebagai contoh, Dinas Kesehatan Batam menyebutkan bahwa belum ada arahan khusus dari pemerintah pusat, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan kesehatan masyarakat.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa status “belum terdeteksi” tidak boleh membuat masyarakat lengah. Mobilitas manusia dan potensi interaksi dengan hewan pembawa virus tetap menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi.
Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pencegahan
Dalam konteks perlindungan anak, orang tua memegang peran sentral. Pengawasan terhadap kebiasaan makan, aktivitas bermain, hingga kebersihan diri anak menjadi benteng pertama dalam mencegah penularan penyakit berbahaya seperti Virus Nipah.
Edukasi yang konsisten dan contoh nyata dari orang tua akan membantu anak membangun kebiasaan sehat jangka panjang. Langkah-langkah sederhana ini diharapkan mampu menekan risiko penularan, sekaligus meningkatkan kesadaran keluarga akan pentingnya kesehatan preventif.
Kesimpulan
Virus Nipah merupakan ancaman serius dengan tingkat fatalitas tinggi dan belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus. Imbauan IDAI agar anak tidak mengonsumsi buah bekas gigitan kelelawar menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan di lingkungan keluarga.
Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, pengawasan orang tua, serta pemahaman terhadap gejala awal menjadi kunci utama pencegahan. Meski Indonesia belum mencatat kasus Virus Nipah, langkah antisipatif tetap diperlukan demi melindungi kesehatan anak dan keluarga secara menyeluruh.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow