Menu
Close
oduu

Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini

IHSG Tiba-Tiba Anjlok 2%, Pasar Saham Berbalik Arah di Tengah Sentimen Global

IHSG Tiba-Tiba Anjlok 2%, Pasar Saham Berbalik Arah di Tengah Sentimen Global

Smallest Font
Largest Font

Koreksi tajam ini terjadi di tengah periode perdagangan yang relatif pendek akibat hari libur nasional. Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai bersikap lebih hati-hati menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dinilai bisa memengaruhi arah pasar global.

Pergerakan IHSG hari ini menegaskan bahwa sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan. Meski sentimen domestik relatif minim, fluktuasi global membuat pasar saham Indonesia bergerak volatil dan sulit diprediksi.

IHSG Berbalik Melemah di Sesi Kedua Perdagangan

Pada perdagangan Selasa siang, IHSG mengalami tekanan jual signifikan. Hingga pukul 14.33 WIB, indeks tercatat melemah 194,24 poin atau 2,17% ke level 8.742,51 setelah sebelumnya berada di zona hijau.

Tekanan terjadi cukup merata di seluruh sektor. Sebanyak 535 saham turun, 220 saham naik, dan 203 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp27,71 triliun dengan volume 49,98 miliar saham dalam sekitar 3,7 juta kali transaksi.

Tingginya nilai transaksi menunjukkan aksi jual dilakukan bukan hanya oleh investor ritel, tetapi juga melibatkan investor institusi yang cenderung lebih berhati-hati menghadapi ketidakpastian global.

Dibuka Positif, IHSG Kehilangan Tenaga

Sebelumnya, pada sesi pertama perdagangan, IHSG masih mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,13% atau 11,21 poin ke level 8.947,96. Saat itu, mayoritas saham masih bergerak positif dengan 359 saham menguat dan 311 saham melemah.

Perubahan arah yang cepat mencerminkan pasar yang rapuh. Banyak pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan setelah mengamati meningkatnya risiko di paruh kedua perdagangan.

Perdagangan Pekan Pendek Picu Volatilitas

Pasar keuangan domestik hanya akan beroperasi empat hari pada pekan ini karena libur Isra Mi’raj pada Jumat. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung lebih agresif dalam mengambil keputusan.

Perdagangan singkat sering kali meningkatkan volatilitas, terutama ketika dibarengi sentimen global yang belum jelas arahnya. Investor cenderung menghindari posisi terbuka terlalu lama untuk meminimalkan risiko.

Inflasi AS Jadi Perhatian Utama Investor

Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada penantian data inflasi Amerika Serikat. Data tersebut menjadi acuan penting untuk melihat arah kebijakan moneter global.

Pasar memperkirakan inflasi AS berada di kisaran 2,7% secara tahunan di penghujung 2025, lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya yang berada di atas 3%. Namun, angka tersebut masih bersifat estimasi sementara dan belum merupakan rilis resmi Indeks Harga Konsumen (CPI).

Ketiadaan data resmi disebabkan oleh terganggunya proses pengumpulan data oleh Bureau of Labor Statistics akibat government shutdown, sehingga pasar hanya mengandalkan estimasi berbasis data terakhir yang tersedia.

Kebijakan The Fed Masih Membayangi Pasar

Di tengah ketidakpastian data inflasi, kebijakan Federal Reserve tetap menjadi perhatian utama investor global. Setiap perubahan arah suku bunga berpotensi memicu volatilitas tinggi, khususnya di pasar saham negara berkembang.

Pelaku pasar menilai bank sentral AS masih akan berhati-hati, menyesuaikan kebijakan dengan dinamika inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Ketidakpastian inilah yang membuat investor cenderung menahan diri.

Harga Komoditas Beri Dampak Ganda

Pergerakan harga komoditas global juga turut memengaruhi IHSG. Kenaikan harga komoditas tertentu memberikan sentimen positif bagi saham-saham berbasis sumber daya alam, namun di sisi lain memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih persisten.

Kondisi ini menciptakan pergerakan yang tidak searah antar sektor di bursa saham Indonesia.

Analisis: Koreksi Sehat atau Awal Tekanan?

Sejumlah analis menilai penurunan IHSG masih tergolong wajar setelah reli panjang sebelumnya. Koreksi dinilai sebagai proses penyesuaian pasar terhadap sentimen baru.

Namun, jika tekanan eksternal berlanjut dan data inflasi AS tidak sesuai ekspektasi, volatilitas berpotensi terus terjadi dalam waktu dekat. Investor disarankan tetap disiplin dalam manajemen risiko dan selektif memilih saham berkualitas.

Kesimpulan

IHSG yang tiba-tiba anjlok lebih dari 2% mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap sentimen global. Perdagangan yang lebih singkat, ketidakpastian inflasi AS, serta arah kebijakan The Fed membuat investor memilih bersikap defensif.

Dalam kondisi pasar seperti ini, kehati-hatian tetap menjadi kunci, baik bagi investor jangka pendek maupun jangka panjang.

Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Haryanto Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow