Rupiah Menguat Tipis di Perdagangan Selasa, Terkerek Sentimen Global dan Dolar Melemah
Pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah ditutup menguat sekitar 0,08 persen ke kisaran Rp16.766–Rp16.780 per dolar AS dibandingkan posisi sehari sebelumnya. Pergerakan ini sejalan dengan mayoritas mata uang negara berkembang lainnya yang juga terapresiasi terhadap dolar AS.
Sentimen Global Tekan Dolar AS
Analis mata uang menyebut penguatan rupiah hari ini dipengaruhi oleh tekanan terhadap dolar AS di pasar global, terutama menjelang keputusan kebijakan suku bunga dari Federal Open Market Committee (FOMC) The Federal Reserve yang akan diumumkan pekan ini. Ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan tanpa kenaikan dalam waktu dekat membuat dolar AS melemah dan memberi ruang bagi mata uang emerging market untuk menguat, termasuk rupiah.
“Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS yang masih dalam tekanan, namun penguatan mungkin terbatas karena investor bersikap wait and see menjelang hasil FOMC,” ujar analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, kepada ANTARA di Jakarta.
Selain itu, sentimen global yang relatif kondusif turut menjadi pendorong apresiasi nilai tukar rupiah, di mana selera risiko pelaku pasar meningkat seiring melemahnya indeks dolar dan membaiknya pandangan terhadap aset berisiko.
Data Perdagangan dan Pergerakan Nilai Tukar
Data perdagangan menunjukkan bahwa pembukaan rupiah pada awal sesi perdagangan sudah berada di zona penguatan, meskipun tipis, dan kemudian dipertahankan hingga penutupan. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan fluktuasi sejalan dengan pergerakan pasar, yang pada beberapa titik perdagangan sempat menunjukkan level penguatan sebelum kembali bergerak variatif.
Faktor Domestik dan Persepsi Pasar
Di dalam negeri, persepsi pelaku pasar terhadap konsistensi kebijakan Bank Indonesia (BI) juga masih menjadi elemen yang diperhatikan. Sentimen positif terhadap kredibilitas otoritas moneter, meskipun tetap berhati-hati terhadap perubahan jabatan di internal BI, turut mempengaruhi pergerakan rupiah di pasar valuta asing.
Secara lebih luas, dinamika penetapan pejabat di Dewan Gubernur Bank Indonesia masih menjadi sorotan pelaku pasar. Meskipun volatilitas sempat meningkat terkait isu ini, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter dan intervensi pasar, sambil memantau kondisi global dan domestik secara holistik.
Dampak Bagi Pelaku Usaha dan Ekonomi
Penguatan rupiah, meskipun relatif tipis, memberikan ruang sedikit lebih baik bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor bahan baku dan komponen produksi, karena potensi biaya pembelian dolar AS menjadi lebih rendah daripada hari sebelumnya. Namun bagi eksportir, apresiasi mata uang cenderung membuat pendapatan dalam rupiah dari hasil penjualan luar negeri sedikit tertekan. Pergerakan ini juga mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Ke depan, data ekonomi domestik yang akan dirilis serta keputusan suku bunga The Fed diperkirakan menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow