Harga Emas Antam Hari ini 31 Januari 2026, Rp 3,12 Juta Per 1 Gram, Spot Dunia Anjlok di Bawah US$ 5.000 per Ounce
Pergerakan itu terjadi di tengah koreksi tajam yang dialami harga emas spot dunia, yang pada awal perdagangan 31 Januari tercatat turun mendekati level US$ 4.893,21 per ounce, atau setara sekitar Rp 2.638.808 per gram, terganggu oleh aksi ambil untung serta penguatan dolar AS di pasar global. Pergerakan ini menempatkan emas di bawah ambang psikologis US$ 5.000 per ounce setelah sebelumnya mencatatkan reli signifikan sepanjang Januari 2026.
Faktor Penggerak Harga Emas Global dan Domestik
Pergerakan harga emas dunia memengaruhi harga di dalam negeri melalui mekanisme konversi spot dan kurs rupiah terhadap dolar AS. Koreksi di pasar internasional dipicu antara lain oleh aksi ambil untung besar setelah logam mulia sempat mencetak rekor serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter di Amerika Serikat. Sentimen ini berdampak pada harga spot dan kontrak berjangka emas yang ditransaksikan di New York dan London.
Sementara itu, di pasar domestik, harga emas batangan seperti Antam masih berada pada level jutaan rupiah per gram, menjadi acuan bagi investor ritel. Nilai ini ditentukan tidak hanya oleh pergerakan spot dunia tetapi juga faktor kurs rupiah, biaya produksi, serta permintaan pasar lokal. Pedagang emas dan investor lokal mengamati bahwa meski terdapat koreksi, penurunan harga emas Antam tidak sedalam harga spot global karena faktor-faktor domestik tersebut.
Perbandingan Dengan Harga Logam Mulia di Pasar Fisik Lainnya
Selain Antam, sejumlah pedagang logam mulia dan platform perdagangan emas fisik seperti Public Gold Indonesia melaporkan harga jual emas batangan 24 karat di kisaran Rp 2.864.000–Rp 2.972.500 per gram, tergantung merek dan ukuran fisik batangan. Harga ini memberikan gambaran tentang variasi harga di pasar fisik yang dipilih oleh investor.
Dampak ke Investor dan Konsumen
Analis pasar komoditas mengatakan kepada redaksi bahwa koreksi harga emas global cenderung berdampak pada sentimen investasi jangka pendek, khususnya bagi investor yang memanfaatkan emas sebagai lindung nilai terhadap volatilitas pasar keuangan. Namun, untuk investor jangka panjang, emas tetap dilihat sebagai aset aman dalam portofolio karena perannya sebagai pelindung nilai terhadap gejolak ekonomi dan inflasi. Pergerakan harga emas domestik yang tetap berada di level tinggi menunjukkan minat masyarakat yang stabil terhadap aset ini.
Investor ritel disarankan tetap memperhatikan faktor fundamental seperti nilai tukar rupiah, kebijakan moneter bank sentral utama, dan dinamika permintaan fisik. Strategi akumulasi bertahap atau pembelian berkala dapat menjadi opsi bagi yang ingin menambah kepemilikan emas, mengingat volatilitas harga harian yang tinggi.
Prospek Harga Emas ke Depan
Prospek harga emas dalam beberapa minggu ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh keputusan kebijakan moneter global, data ekonomi makro utama, serta perkembangan geopolitik yang terus berubah. Ketidakpastian tersebut kerap mendorong investor untuk kembali ke emas sebagai aset lindung nilai, sehingga potensi penguatan kembali masih terbuka, meskipun dengan pergerakan yang bergejolak.
Publik dan calon pembeli emas disarankan untuk mengecek harga secara real-time menjelang transaksi karena harga logam mulia bergerak cepat dan dipengaruhi oleh sentimen pasar global serta kurs harian rupiah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow