Menu
Close
oduu

Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini

Harga Saham BUMI Melonjak Tajam, Investor Asing Borong di Awal Pekan

Harga Saham BUMI Melonjak Tajam, Investor Asing Borong di Awal Pekan

Smallest Font
Largest Font

Tidak hanya PT Bumi Resources Tbk (BUMI), saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga ikut mencuri perhatian. Keduanya sama-sama mencatatkan kenaikan harga, nilai transaksi jumbo, serta kapitalisasi pasar yang terus menguat. Kombinasi sentimen positif dan agenda korporasi yang berjalan dinilai menjadi pendorong utama reli saham-saham tersebut.

Lantas, bagaimana gambaran lengkap pergerakan harga saham BUMI dan DEWA, serta apa saja faktor yang memengaruhinya? Berikut ulasan lengkapnya.

Lonjakan Harga Saham BUMI di Tengah Aksi Borong Investor Kakap

Pada perdagangan saham hingga sesi pertama Senin (5/1), harga saham BUMI terpantau melesat hingga 10 persen dan diperdagangkan di level Rp 462 per lembar saham. Kenaikan ini mendorong kapitalisasi pasar BUMI menembus Rp 171,56 triliun, menjadikannya salah satu emiten dengan transaksi terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari itu.

Tidak hanya dari sisi harga, aktivitas perdagangan saham BUMI juga tergolong sangat agresif. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 4,82 triliun dalam satu hari perdagangan. Secara historis, saham BUMI bahkan telah terbang sekitar 308,85 persen dalam enam bulan terakhir, mencerminkan minat pasar yang terus meningkat.

Minat Investor Asing Jadi Katalis Utama

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai lonjakan harga saham BUMI tidak lepas dari aksi beli investor asing dengan nilai signifikan. Menurutnya, investor asing tercatat membukukan pembelian bersih hingga sekitar Rp 889 miliar.

“Minat asing yang besar ini mencerminkan kepercayaan terhadap prospek BUMI, terutama di tengah langkah-langkah korporasi yang dinilai progresif,” ujar Hendra.

Ia menambahkan, dukungan likuiditas tersebut berjalan beriringan dengan agenda restrukturisasi dan diversifikasi bisnis yang tengah dilakukan perseroan.

Strategi Korporasi BUMI: Kuasi Reorganisasi dan Diversifikasi

Salah satu sentimen positif yang menopang pergerakan harga saham BUMI adalah upaya kuasi reorganisasi. Langkah ini bertujuan memperbaiki struktur permodalan perusahaan agar lebih sehat dan berkelanjutan ke depan.

Selain itu, BUMI juga mulai menata strategi diversifikasi pendapatan ke luar sektor batu bara. Strategi ini dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas global yang selama ini menjadi tantangan utama sektor tambang.

“Dengan kombinasi sentimen tersebut, prospek BUMI positif dalam jangka pendek hingga menengah,” kata Hendra saat dihubungi media.

Target Harga Saham BUMI Menurut Analis

Dari sisi valuasi, Hendra memproyeksikan target harga saham BUMI di kisaran Rp 500 dalam waktu dekat. Target ini didorong oleh momentum pembelian asing dan likuiditas yang masih kuat di pasar.

Bahkan, jika sentimen eksternal kondusif dan agenda korporasi berjalan sesuai rencana, saham BUMI dinilai berpeluang menuju level Rp 600 dalam rentang waktu 1 hingga 3 bulan ke depan. Faktor penopangnya antara lain kuasi reorganisasi, diversifikasi bisnis, serta arus modal institusional yang berkelanjutan.

Namun demikian, investor tetap diimbau mencermati risiko koreksi jangka pendek. “Setelah reli agresif, potensi ambil untung, fluktuasi harga komoditas global, hingga tekanan jual dari pemegang saham besar perlu diwaspadai,” jelas Hendra.

Aksi Investor Global Perkuat Tren Saham BUMI

Minat investor institusional terhadap saham BUMI juga tercermin dari aktivitas sekuritas global. Pada Jumat (2/1), JP Morgan tercatat membeli saham BUMI di harga rata-rata Rp 407 sebanyak 6 juta saham.

Sementara itu, UBS Sekuritas juga memborong sekitar 16,4 juta saham di kisaran harga Rp 402. Saham BUMI kemudian ditutup menguat di level Rp 420, sebelum akhirnya kembali melonjak pada awal pekan berikutnya.

Data ini mempertegas bahwa penguatan harga saham BUMI bukan sekadar spekulasi jangka pendek, melainkan ditopang oleh aliran dana institusional berskala besar.

Saham DEWA Ikut Terkerek, Target Harga Terus Naik

Selain BUMI, saham DEWA juga mencatat kinerja impresif. Pada sesi perdagangan yang sama, saham DEWA menguat sekitar 2 persen ke level Rp 765 per saham. Nilai transaksinya mencapai Rp 1,27 triliun dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 31,13 triliun.

Dalam enam bulan terakhir, saham DEWA bahkan telah melonjak sekitar 334,66 persen, menandakan tren kenaikan yang cukup solid.

Sentimen Positif dan Aksi Korporasi DEWA

Hendra menyebut saham DEWA juga menarik perhatian investor asing, dengan pembelian bersih sekitar Rp 204 miliar sejak awal tahun. Aksi korporasi seperti konversi utang dan program buyback dinilai memperkuat kepercayaan pasar terhadap fundamental perusahaan.

Untuk jangka menengah, target harga saham DEWA diproyeksikan berada di level Rp 800. Bahkan, jika akumulasi saham berlanjut dengan volume transaksi yang kuat, potensi kenaikan ke Rp 1.000 dinilai terbuka.

“Katalis utamanya antara lain efektivitas penggunaan dana hasil penguatan permodalan, peluang kontrak jasa pertambangan baru, serta keberlanjutan minat investor institusional,” jelas Hendra.

Rekomendasi Sekuritas dan Risiko yang Perlu Dicermati

Di sisi lain, BCA Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham DEWA. Bahkan, target harga dinaikkan menjadi Rp 1.100 per saham dari sebelumnya Rp 450.

Kenaikan target tersebut didasarkan pada keyakinan terhadap eksekusi manajemen, potensi kontrak besar baru, serta nilai dari proyek emas Gayo. Dari sisi valuasi, metode SOTP mencerminkan FY26F EV/EBITDA sebesar 15,6 kali, masih sekitar 58 persen lebih rendah dibandingkan emiten sejenis di sektor emas.

Meski begitu, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, seperti faktor cuaca, penurunan RKAB, melemahnya permintaan batu bara, keterbatasan pembiayaan, hingga risiko eksekusi proyek Gayo.

Kesimpulan: Prospek Positif, Tetap Waspada Volatilitas

Secara keseluruhan, pergerakan harga saham BUMI dan DEWA dalam beberapa bulan ke depan dinilai masih didukung oleh arus modal asing yang kuat serta realisasi agenda korporasi. Reli awal tahun menunjukkan tren yang konstruktif, meski volatilitas dan potensi koreksi jangka pendek tetap menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan.

“Selama sentimen global relatif stabil dan katalis internal terealisasi secara bertahap, BUMI dan DEWA berpeluang melanjutkan kenaikan,” tutup Hendra.

Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Haryanto Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow