Harga Emas Dunia Tembus Rekor Lagi Dengan Logam Mulia Antam Dekati Rp3 Juta per Gram
Kenaikan ini terjadi saat pelaku pasar semakin mengalihkan portofolio mereka ke emas di tengah pelemahan kepercayaan terhadap aset berisiko setelah tekanan pasar obligasi dan kekhawatiran utang negara. Lonjakan permintaan tersebut mencerminkan pergeseran preferensi investor global yang mengincar instrumen aman di tengah volatilitas pasar modal.
Rekor Harga Emas Dunia
Perdagangan emas internasional pada Rabu pagi memperlihatkan harga spot emas melonjak di atas US$5.200 per ounce, mencapai puncak tertinggi sepanjang masa dalam sesi perdagangan awal Asia dan Eropa. Data platform harga emas mencatat level sekitar US$5.244 per ounce, dengan kenaikan signifikan dibandingkan hari sebelumnya, sekaligus mencerminkan tren penguatan berlangsung sejak awal pekan ini.
Peningkatan harga emas juga tercermin dalam ukuran gram; konversi rata-rata harga dunia menempatkan emas spot di kisaran USD168,6 per gram, setara sekitar Rp2,82 juta per gram berdasarkan kurs tengah rupiah. Pergerakan ini menunjukkan momentum kuat di pasar global yang terus menekan harga emas ke level lebih tinggi.
Analis pasar komoditas menyatakan bahwa ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global menjadi pendorong utama reli emas. “Investor semakin mencari aset yang lebih aman di tengah volatilitas pasar keuangan, yang juga didorong oleh kekhawatiran utang pemerintah dan kebijakan moneter yang tidak pasti,” ujar seorang analis pasar komoditas senior. Pernyataan tersebut menggambarkan tren aliran modal ke emas sebagai lindung nilai atas risiko pasar.
Dampak di Pasar Logam Mulia Indonesia
Di dalam negeri, harga logam mulia seperti emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengikuti jejak penguatan harga dunia. Perdagangan di butik resmi Antam mencatat harga emas batangan naik sekitar Rp52.000 menjadi Rp2.968.000 per gram pada Rabu pagi, meningkat dari sekitar Rp2,916 juta pada hari sebelumnya.
Lonjakan harga ini menempatkan logam mulia Antam semakin mendekati level psikologis Rp3 juta per gram, sebuah momen penting bagi pasar emas domestik karena menjadi indikator sentimen investor ritel di Indonesia. Permintaan konsumen untuk emas batangan diperkirakan tetap kuat, terutama menjelang momen konsumsi tradisional seperti perayaan Imlek dan pernikahan.
Pelaku pasar emas lokal mengatakan bahwa keputusan investor domestik turut dipengaruhi oleh sentimen global, di mana emas dipandang sebagai pelindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. “Investor kecil tetap melihat emas sebagai aset jangka panjang yang aman, terutama ketika pasar saham dan obligasi mengalami gejolak,” kata seorang pedagang logam mulia di Jakarta. Pernyataan ini menggarisbawahi keterkaitan antara pasar emas global dan harga logam mulia di Indonesia.
Faktor Penggerak Harga
Menurut data pasar komoditas, beberapa faktor utama mendorong harga emas melonjak tajam antara lain:
- Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, yang memicu permintaan aset aman.
- Preferensi investor global terhadap emas dalam portofolio yang lebih defensif.
- Tekanan di pasar obligasi dan risiko utang pemerintah, yang menyebabkan aliran modal masuk ke logam mulia.
Permintaan dari pusat perdagangan emas terbesar seperti China dan Hong Kong juga menunjukkan antusiasme tinggi, meskipun harga telah melejit ke level tertinggi sejarah. Analis pasar mencatat bahwa meskipun harga tinggi, preferensi budaya terhadap emas tetap menjadi pendorong kuat permintaan jangka panjang di kawasan Asia.
Para ekonom memperkirakan bahwa selama sentimen risiko global tetap tinggi dan kebijakan moneter besar seperti suku bunga acuan AS dan Eurozone tidak mengalami perubahan drastis, harga emas dunia berpotensi mempertahankan tren kenaikannya dalam beberapa pekan mendatang. Hal ini juga berimplikasi pada harga logam mulia di pasar domestik yang kemungkinan masih berada dalam jalur penguatan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow